IPAL Limbah Tahu

Rangkaian teknologi yang diterapkan dalam IPAL memiliki tujuan utama untuk menurunkan kadar pencemar dalam effluent sebelum dibuang ke badan air. Selain itu, penerapan teknologi ini juga memiliki manfaat lanjutan untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah menjadi biogas melalui instalasi biodigester. Di sisi lain, keberadaan IPAL ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang sosial baru bagi warga mengingat Desa Tamanagung termasuk permukiman padat yang masih kurang ruang interaksi warganya.

Lokasi Penerapan

Keberadaan replikasi teknologi IPAL Tahu di Desa Tamanagung dilakukan untuk mencegah pembuangan air limbah industri tahu langsung ke badan air seperti yang dilakukan pengrajin tahu selama ini. Pengrajin Tahu Desa Tamanagung merupakan industri rumahan dengan jumlah 17 industri serta total produksi tahu mencapai 2000-2500 kg/hari. Dari keseluruhan jumlah air bersih yang digunakan untuk pengolahan kedelai menjadi tahu dari proses awal hingga akhir sebesar 70-90 % yaitu sebesar maksimal 43,92 m3 debit air limbah yang dihasilkan. Kondisi maksimal ini biasanya terjadi saat permintaan tahu yang tinggi biasanya pada bulan Ramadhan. Limbah cair ini awalnya dialirkan melalui saluran tertutup, namun kemudian masuk ke dalam saluran terbuka dan bergabung dengan limbah rumah tangga sehingga menghasilkan bau yang busuk sepanjang saluran drainase dan mengundang protes bagi warga sekitar desa. Replikasi Teknologi IPAL Tahu yang dibangun berupa unit instalasi Bak Ekualisasi, Biodigester, Anaerobic Baffled Reactor, Biofilter, dan Kolam Sanita.